Hari Raya Saraswati, Pagerwesi dan Tumpek Landep di Bali 2017.08.24

 

Saraswati

ブサキ-07

Masyarakat Hindu Bali mempercayai bahwa Hari Raya Saraswati merupakan hari dimana Sang Hyang Widhi menurunkan ilmu pengetahuan bagi umat manusia dengan tujuan untuk menyelaraskan dirinya dengan alam. Hari Raya Saraswati ini dirayakan oleh penganut Hindu di Indonesia setiap 210 hari sekali atau setiap 6 bulan, yang selalu jatuh setiap hari Sabtu.

Manifestasi Saraswati diwujudkan dalam seorang dewi yang cantik dengan berpakaian putih bersih (symbol ilmu pengetahuan yang bersih/suci), bertangan empat dengan membawa alat music (musik merupakan perwujudan dari akal manusia), pustaka suci (pustaka/buku sebagai sumber ilmu pengentahuan), teratai (melambangkan keindahan), dan duduk diatas angsa (angsa mampu memisahkan makan di lumpur, memisahkan antara kesucian diantara noda) yang merupakan hewan yang suci.

Makna yang terkandung didalamnya adalah dengan adanya penghormatan terhadap ilmu pengetahuan pada hari Saraswati ini, kita bisa menggunakan ilmu pengetahuan dengan sebaik mungkin agar berguna bagi kehidupan manusia.

Pagerwesi

IMG_21293

Pagerwesi juga merupakan satu rangkaian upacara dari turunnya ilmu pengetahuan (Saraswati), dimana rangkaian itu sendiri terdiri dari:

  • 1. Hari Sabtu (Saraswati) yang merupakan hari turunnya ilmu pengetahuan suci dari Tuhan kepada manusia
  • DSC_6824
  • 2. Hari Minggu (Banyu Pinaruh) atau penyucian diri dari Manusia (sebagai penerima dari ilmu pengetahuan) baik di laut ataupun di mata air, dengan tujuan agar ilmu tersebut dapat diserap dengan sebaik mungkin di akal dan budi kita 002
  • 3. Hari Senin (Soma Ribek) dimana maknyanya adalah Ida Sang Hyang Widhi (Tuhan) memberikan hasil bumi dan kesuburan tanah yang melimpah untuk menunjang ilmu pengetahuan tersebut (agar bisa kita olah)IMG_3524
  • 4. Hari Selasa (Sabuh Mas) maknanya adalah agar manusia menghaturkan rasa syukur dan terbebas dari kerakusan terhadap arta berana seperti logam mulia (emas, perak, harta, permata, manik-manik, dll) yang merupakan salah satu godaan dari ilmu pengetahuan.
  • 5. Hari Rabu (Pager Wesi) adalah sebagai pembentengan diri dan bermakna sebagai keteguhan imam / pegangan hidup yang kuat agar segala pengetahuan yang diberikan dapat digunakan di jalan yang benar (Dharma). Hari Pagerwesi biasanya dilakukan dengan upacara yang lebih besar daripada hari lainnya tetapi sejatinya seluruh hari-hari tersebut diatas juga tidak kalah pentingnya untuk dilaksanakan.

Tumpek Landep

 

Hari raya Tumpek Landep adalah hari raya yang khusus ditujukan kepada Sang Hyang Pasupati (dewa senjata) yang juga dilakukan setiap 210 hari sekali (kurang lebih 6 bulan sekali). Tumpek adalah hari-hari tertentu dalam calendar Bali yang berdasarkan atas hitungan ‘wewaran’ dan terjadi beberapa kali dalam setahun sedangkan Landep sendiri berarti tajam/runcing. 

 

Tumpek Landep merupakan perwujudan puji syukur atas anugerah kecerdasan dan ketajaman pikiran kepada manusia yang mana dari pikiran-pikiran  tersebut melahirkan daya cipta rasa dan karsa manusia dalam menciptakan sesuatu yang dapat mempermudah kehidupannya untuk mencapai kebahagiaan.

20120110_044716

Saat ini, upacara Tumpek Landep tidak hanya dikhususkan untuk memohon keselamatan dari segala macam hasil akal manusia yang berwujud senjata tajam (seperti keris, pisau dll) tetapi juga segala hasil yang terbuat dari logam (seperti kendaraan bermotor). Akhir-akhir ini Tumpek Landep diidentikkan dengan upacara kepada benda-benda atau kendaraan bermotor sehingga pada hari ini, masyarakat di Bali pada umumnya mengupacarai kendaraan mereka dengan harapan untuk mendapatkan keselamatan saat menggunakan alat tersebut.





COMMENT

Leave a Reply

    コメントはありません。

Category

  • Recent Posts

  • Archives

  • Language

  • Follow Kura Kura Guide's board :: Art & Culture :: on Pinterest.

    Back to Top