Bali Tetap ‘Aman’ Sebagai Tujuan Wisata 2017.11.02

Mt. Agung Bali

Pada 22 September 2017, Gunung Agung, gunung tertinggi di Bali mendapatkan status awas (tingkat 4) karena naiknya aktivitas vulkanik oleh Biro Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) setempat. Hal ini berdampak kepada masyarakat yang tinggal dalam radius 12 Km Gunung Agung karena harus dievakuasi ke daerah yang lebih aman seperti Gianyar, Klungkung atau Buleleng karena potensi ancaman yang akan ditimbulkan oleh Gunung Agung. Pulau Bali dengan industri parwisatanya yang bagaikan ‘roti dan mentega’ juga mengalami kemerosotan.
Namun, pada hari Minggu, 29 Oktober 2017, kita mengetahui bersama ada perubahan penting yang telah terjadi, dimana tingkat status untuk Gunung Agung telah dirubah dari status awas (tingkat 4) diturunkan menjadi status siaga (tingkat 3). Keputusan tersebut dilakukan karena turunnya aktivitas seismik di Gunung Agung. Keputusan ini merupakan peristiwa penting terutama bagi industri pariwisata di Bali, karena sentimen negatif yang diterima oleh pulau Bali akibat gunun yang berpotensi letusan diharapkan dapat berubah menjadi positif karena letusan mungkin tidak akan terjadi.

Gunung Agung: Gunung Tertinggi di Bali

Dengan ketinggian 3.031 meter di atas permukaan laut, Gunung Agung merupakan gunung tertinggi di Bali yang letaknya di sisi timur Bali, di Kabupaten Karangasem, sekitar 2 jam perjalanan dari Bali Selatan (Denpasar) atau berjarak 3 jam perjalanan dari Kuta / Legian. Dipisahkan dengan jarak sekitar 70 Km, wilayah Bali Selatan sebagai pusat pariwisata sebenarnya berada jauh di luar batas evakuasi saat ini (diamati pada radius 9 km) dan merupakan jarak yang sangat aman dari bahaya letusan gunung berapi.

Sayangnya beberapa fakta ini tidak disampaikan dengan benar ke luar negeri dan ada kesalahan informasi yang serius terhadap potensi dampak letusan gunung berapi. Ya, memang masih ada resiko letusan berapi, tetapi pemerintah Indonesia dan masyarakat Bali setempat telah bekerja sepanjang waktu untuk memastikan bahwa wisatawan dan juga masyarakat setempat aman jika benar terjadi letusan. Sebenarnya, banyak dari kami masyarakat di Bali hampir tidak peduli dengan potensi letusan. Hidup berjalan normal sebagaimana mestinya dan perayaan Hari Galungan, yang jatuh pada tanggal 1 November 2017 masih tetap sama dirayakan sebagaimana seperti - seperti sebelumnya.  Kami tetap fokus terhadap perayaan dan adat istiadat kami walaupun letusan Gunung Agung menjadi ancaman bagi kami. Tentu saja kami waspada terhadap letusan, debu dan abu akan menjadi ancaman utama tapi sekali lagi itu tergantung dari skala letusannya.
Bagi wisatawan tentunya ada pertimbangan yang berbeda dalam hal pengaturan perjalanan mereka dan hal tersebut memungkinkan kami untuk menjelaskan keadaan terkini dari perspektif lokal terhadap letusan Gunung Agung. Semoga kenyataan ini akan merubah pikiran kalian dan tepat memutuskan untuk mengunjungi Bali sebagai tujuan liburan berikutnya.

1. Dampak dari Erupsi Gunung Agung

Gunung Agung sebagai gunung tertinggi di Bali dan sebagai gunung berapi aktif memang membawa ancaman letusan atau peristiwa bencana lainnya (gempa bumi, dll). Namun, gunung yang jaraknya jauh berada di wilayah timur pulau Bali ini, letusannya (tentu saja tergantung dari ukurannya) seharusnya tidak berimplikasi langsung kepada penduduk asli yang tinggal disini. Ada radius ledakan yang saat ini diamati berada pada jarak 9 Km dan di luar radius tersebut dianggap aman. Saat letusan terjadi, apabila kalian berada di wilayah Bali  Selatan, kalian berada di zona aman dan jika kalian berada di daerah Sanur / Nusa Dua, beberapa hotel disana memiliki pemandangan gunung yang tidak disengaja. Jika letusannya kecil, hal tersebut bisa menjadi tontonan, seperti halnya dengan Gunung Batur (gunung berapi aktif lainnya di Bali) yang meletus pada tahun 2000

2. Faktor dari Penutupun Bandara

Persepsi masyarakat masih berpikir bahwa dalam kasus letusan Gunung Agung, bandara internasional Ngurah Rai secara otomatis akan ditutup sampai waktu yang tak ditentukan. Meskipun penutupan bandara sebagian besar sangat bergantung pada kondisi cuaca (arah angin misalnya) dan skala abu vulkanik yang dimuntahkan oleh Gunung Agung. Jika arah angin bertiup ke arah timur - barat dan membawa abu vulkanik, visibilitas yang berkurang di atas bandara akan mempengaruhi pesawat yang akan keluar atau menuju ke Bali. Tentunya saat itu, otoritas bandara Ngurah Rai akan mengumumkan bahwa bandara tersebut ditutup. Skenario lain mungkin tidak begitu parah dan penerbangan masih bisa dilakukan dengan letusan yang sedang berlangsung.
Namun jika terjadi letusan besar dengan puing - puing, pemerintah Indonesia dan pemerintah daerah telah mengantisipasi rencana darurat dengan menyediakan kendaraan darat dan laut gratis ke bandara terdekat (seperti bandara Juanda di Surabaya dan Lombok) yang mana di bandara tersebut penerbangan keluar dapat dilakukan. Langkah ini untuk memastikan bahwa wisatwan yang ingin kembali ke negara mereka dapat diakomodasi dengan mengantar mereka ke bandara terdekat dan menghubungkan penerbangan mereka ke bandara tersebut.

3. Tinggal Sementara Gratis di Bali

Beberapa hotel dan agen perjalanan (silakan hubungi langsung ke agen khusus  perjalanan kalian) menawarkan bebas biaya tinggal jika terjadi letusan karena perubahan jadwal penerbangan kalian untuk hari pertama masa tinggal kalian (beberapa ditawarkan lebih lama). Akan ada diskon yang ditawarkan oleh hotel dan agen perjalanan kalian (jika kalian memutuskan untuk tinggal lebih lama) yang sampai 50% dari tarif yang dipublikasikan untuk memastikan bahwa setiap orang merasa aman saat tetap berada dalam kenyamanan sambil menunggu jadwal  penerbangan mereka. Diskon darurat ini diberikan untuk memastikan tidak ada panik massal karena bencana ini dan juga untuk memastikan semua orang (terutama turis) dalam keadaan aman.
Komitmen ini (untuk diskon kamar hotel) disampaikan oleh Kementerian Pariwisata Indonesia sebagai persetujuan umum yang dibuat oleh Asosiasi Hotel Bali (BHA) yang mengatur standar hotel (terutama untuk hotel bintang 4 dan 5).

4. Penurunan Tingkat Level Potensi Letusan Gunung Agung

Seperti disebutkan di atas, potensi letusan telah berkurang dari level 4 (tertinggi) ke level 3 (tinggi). Meskipun ini adalah kabar baik bagi Bali karena 80% perekonomian kita masih sangat bergantung pada pariwisata, namun relatif tidak aman untuk melakukan perjalanan di bawah radius 9 km dari Gunung Agung. Tolong hentikan pikiran kalin untuk mendaki gunung megah ini atau mengunjungi Pura Besakih yang terkenal untuk saat ini, karena akses ke beberapa situs bersejarah tersebut terbatas. 
Namun, dengan mengurangi tingkat potensi letusan, hampir aman untuk mengklaim bahwa potensi letusan sudah mulai turun. Kita tentu berharap agar ini terus berlanjut agar mereka yang dievakuasi dari daerah rawan letusan dapat segera kembali ke rumah masing - masing.

Dari informasi di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa Bali tetap aman menjadi tujuan wisata karena kawasan wisata berada jauh di luar zona bahaya. Harapan kami adalah ada sentimen positif karena turunnya tingkat letusan potensial dan bagi mereka yang berencana mengunjungi pulau ini, mohon tetap diperbaharui dengan informasi yang akurat dan selalu temukan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, karena ada banyak artikel di luar sana tidak mengacu pada fakta. Tetap positif dengan rencana liburan kalian ke Bali dan semoga kalian tetap bisa menikmatinya.

Happy traveling and see you in Bali.  ;-)




COMMENT

Leave a Reply

    コメントはありません。

Category

  • Recent Posts

  • Language

  • Archives

  • Follow Kura Kura Guide's board :: Art & Culture :: on Pinterest.

    Back to Top